SENYUMNYA langsung mengembang ketika melihat sisa lilin sepanjang 4 cm. Ide liarnya mengatakan benda yang sudah terbuang itu masih bisa dimanfaatkan. Dengan memanfaatkan kaleng bekas, kertas almunium, dan kaca reflektor, lilin tersebut disulap menjadi sebuah lampu sorot atau senter.
“Ide muncul begitu saja dan itu membuat saya lebih tenangmenghadapi uji keterampilan di depan juri,” kata Arantxa Anindya Antonius. Ide kreatif sekaligus inovatif itu kemudian mengantar pelajar kelas VIII F Regina Pacis itu menjadi juara I Pelajar Berprestasi se-Kota Bogor, tahun ini.
Ara, panggilan Arantxa, mengaku sempat tidak pede alias tidak percaya diri karena ia hanya berada di peringkat 10, dari 80 peserta setelah menjalani tes akademik pada hari pertama lomba. Ia pun berpikir keras untuk mendongkrak peringkatnya karena masih ada uji wawancara bahasa inggris, kesenian, dan keterampilan pada hari kedua.
Untuk wawancara bahasa Inggris Ara tidak menemui banyak kesulitan, karena sejak sekolah dasar ia ikut les. Apalagi ia mendapat bimbingan intensif dari gurunya, Miss Sari. Ara kemudian memilih menampilkan tari balet sleeping beauty saat ujian kesenian dan membuat senter dari lilin sisa, untuk tes keterampilan.
“Saya sudah menduga banyak yang akan membawakan kesenian daerah, maka saya pilih balet yang memang menjadi hobi sejak kecil.,” kata bungsu dari tiga bersaudara yang menguasai alat musik piano dan hobi bermain teater ini. Lantas mengapa memilih membuat senter dari lilin?
“Senter banyak manfaatnya, terutama untuk warga pedesaan yang belum dialiri listrik. Biasanya kamar mandi atau wc mereka terpisah dari rumah induk. Jadi mereka butuh penerangan jika ingin ke wc. Nah mereka bisa memanfaatkan lilin yang sudah pendek itu untuk dibuat senter,” tutur Ara yang mengaku bangga dengan prestasi yang diraihnya itu.
Kepala SMP Regina Pacis, C. Retno W., SPd mengatakan, secara akademik prestasi Ara memang tidak terlalu menonjol dan hanya menempati rangking 8 di kelasnya. Namun gadis kelahiran 19 September 1995 ini punya kelebihan di bidang keterampilan dan seni. “Saya tidak menyangka Ara bisa juara I karena di ujian akdemiknya dia di urutan terakhir kelompok 10 besar. Menurut saya kreatifitasnya yang membuat dirinya tampil menjadi juara. Ara juga juara I pada Speech contest Marsudirini gathering,” tutur Retno.
Kini Ara, harus bersiap mewakili Kota Bogor untuk berkompetisi di level Jawa Barat. Ara mengaku sudah punya ide lain untuk ditampilkan dalam lomba tingkat provisnsi yang rencananya digelar Juli mendatang. “Doakan ya,” kata Ara yang kemudian bergegas berlatih teater. (martin)






