{"id":3091,"date":"2019-06-30T09:26:00","date_gmt":"2019-06-30T02:26:00","guid":{"rendered":"https:\/\/reginapacis.sch.id\/?p=3091"},"modified":"2024-09-08T10:21:09","modified_gmt":"2024-09-08T03:21:09","slug":"penggunaan-arus-ac-pada-konsep-electromagnetic-forming-machine-untuk-pembuatan-komponen-presisi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/reginapacis.sch.id\/sma\/2019\/06\/30\/penggunaan-arus-ac-pada-konsep-electromagnetic-forming-machine-untuk-pembuatan-komponen-presisi\/","title":{"rendered":"Penggunaan Arus AC Pada Konsep Electromagnetic Forming Machine Untuk Pembuatan Komponen Presisi"},"content":{"rendered":"\n<p>Memotong  suatu material tentunya harus dgn alat yg terbuat dari material yg  lebih keras. Membengkokkan suatu objek tentunya harus dgn cengkeraman  dan gaya yg sesuai besarnya. Namun bagaimana jika memotong, membengkokan  dan membentuk logam di masa datang dapat dilakukan tanpa kontak, tanpa  kekerasan, bahkan tanpa sentuhan sama sekali ?<\/p>\n\n\n\n<p> Salah satu teknik yg menjanjikan utk memanipulasi material logam adalah proses electromagnetic forming. Proses ini mengandalkan gaya elektromagnetik saat memberi perlakukan thd suatu objek atau material. Jadi tidak ada kontak antara sumber energi dan objek yg dipotong atau dibentuk. Fenomena ini ditemukan pertama kalinya oleh Hans Christian \u00d8rsted pada tahun 1820. Proses electromagnetic forming memanfaatkan gaya elektromagnetik yg dihasilkan suatu kumparan utk memotong atau membentuk material logam. Mekanisme yg digunakan tidak sederhana. Mewujudkan fenomena ini harus dilakukan melalui sistem mekanik dan elektrik yg didesain dan dibuat secara presisi. <\/p>\n\n\n\n<p> Walau  menarik, proses ini secara praktis belum bisa diterapkan dalam dunia  industri nyata, dan sejauh ini masih dalam fase eksperimentasi. Pasti  ada alasan mengapa gagasan ini belum berkembang pesat walaupun sudah  berumur hampir 2 abad. Lambatnya pengembangan teknologi ini diduga  terjadi karena adanya beberapa kelemahan yg mengurangi kepraktisan  aplikasinya. Salah satunya adalah efek eddy current, yaitu pusaran arus listrik terlokalisasi yg diakibatkan tidak meratanya medan magnet.<\/p>\n\n\n\n<p>Samuel  dan Ivan, keduanya siswa kelas XI MIPA 2, merupakan tipe siswa yg gemar  membaca bacaan-bacaan saintifik. Imajinasi mereka thd suatu kejadian  fisika yg mereka minati begitu kuat. Mereka sanggup membayangkan dalam  pikirannya secara detail tentang suatu proses yg hanya mereka dapatkan  melalui narasi-narasi bacaannya. Mereka menemukan kasus ilmiah ini dan  membawanya kepada para alumni pengarah. Meminta pendapat sekaligus  mengajukan usulannya utk mengkaji dan menelitinya. Bahkan bagi para  alumni dan guru pembimbing, topik yg mereka angkat ini sangatlah &#8216;berat&#8217;  utk dibimbing. Pembimbingnya harus belajar dulu, mengejar apa yg mereka  sudah lama pelajari.<\/p>\n\n\n\n<p>Penemu  aslinya, menggunakan sumber daya DC. Kali ini Samuel dan Ivan berpikir  utk menggantinya dgn sumber AC, utk sejumlah alasan. Dalam skema  aslinya, sumber daya mengalirkan denyutan arus DC yg sangat kuat ke  kumparan selama beberapa mikrosekon, dan kumparan tersebut akan  menghasilkan medan magnet. Medan magnet itu akan menginduksi arus di  sekitar benda kerja, lalu menghasilkan medan sekunder. Sesuai aturan  Hukum Lenz, kedua medan magnet yg terjadi akan saling mendorong. Benda  kerja akan terdorong ke bagian tengah kumparan dgn kecepatan yg sangat  tinggi (mendekati 300 m\/s). Kondisi ini akan mengubah wujud material  menjadi wujud visco-plastic yg meningkatkan  formabilitas material tanpa melemahkannya. Setelah itu benda kerja akan  berubah bentuk secara permanen (Daehn, dkk., 2005). <\/p>\n\n\n\n<p>Samuel  dan Ivan akan membuat model eksperimen di lab. Tentunya penggunaan arus  AC membawa tantangannya sendiri untuk diaplikasikan. Apalagi sarana lab  fisika di level SMA sejauh ini belum menjangkau peragaan-peragaan  fenomena elektromagnetik secara mendalam. Seorang reviewer pakar di  Kemdikbud yg menyeleksi proposal para peserta Olimpiade Penelitian Siswa  Indonesia, tertarik pada gagasan penelitian Samual dan Ivan. Beliau  juga telah lama mengikuti perkembangan teknologi ini. Sederet saran  diberikan kepada Samuel dan Ivan, sekaligus menyatakan kesediaan beliau  berperan sebagai pembimbing hingga penelitian Samuel dan Ivan selesai  dilakukan pada September mendatang.  <\/p>\n\n\n\n<p>Sumber: <a href=\"https:\/\/www.facebook.com\/photo.php?fbid=10214497887902936&amp;set=gm.1196115483890808&amp;type=3&amp;theater&amp;ifg=1\">Facebook<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Memotong suatu material tentunya harus dgn alat yg terbuat dari material yg lebih keras. Membengkokkan suatu objek tentunya harus dgn cengkeraman dan gaya yg sesuai besarnya. Namun bagaimana jika memotong, membengkokan dan membentuk logam di masa datang dapat dilakukan tanpa kontak, tanpa kekerasan, bahkan tanpa sentuhan sama sekali ? Salah satu teknik yg menjanjikan utk [&#8230;]\n","protected":false},"author":7,"featured_media":3093,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[15],"tags":[],"class_list":["post-3091","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kir-sma"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/reginapacis.sch.id\/sma\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3091","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/reginapacis.sch.id\/sma\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/reginapacis.sch.id\/sma\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/reginapacis.sch.id\/sma\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/reginapacis.sch.id\/sma\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3091"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/reginapacis.sch.id\/sma\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3091\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7529,"href":"https:\/\/reginapacis.sch.id\/sma\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3091\/revisions\/7529"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/reginapacis.sch.id\/sma\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3093"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/reginapacis.sch.id\/sma\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3091"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/reginapacis.sch.id\/sma\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3091"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/reginapacis.sch.id\/sma\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3091"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}