SEJARAH
SEKOLAH REGINA PACIS BOGOR

Sejarah FMM di Bogor dimulai pada tahun 1933 di bidang Panti Asuhan dan Sekolah Kepandaian Putri. Lalu Sekolah Regina Pacis Bogor dibuka pada Agustus tahun 1948. Setelah itu, Sekolah Kepandaian Putri ditutup pada tahun 1967 dan mulai menerima siswa putera. Terletak di jantung kota Bogor, Yayasan yang dahulu bernama Yayasan Bakti Utama bertujuan untuk pelayanan di bidang pendidikan, kesehatan, pastoral dan sosial.
Untuk mengikuti perkembangan dan meningkatkan kualitas, Gedung SMA mulai dibangun pada tahun 1988 dan selesai pada tahun 1989. Setelah itu, Gedung SMA pun diresmikan dan diberkati. Sedangkan gedung TK dan SD diresmikan dan juga diberkati pada tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh tiga. Untuk gedung SMP, dilakukan renovasi yang tidak merubah bangunan utama yang dirancang oleh arsitek F. Silaban.
Di tahun 2002, Sekolah Regina Pacis yang sebelumnya berada di bawah Yayasan Bakti Utama berubah menjadi Yayasan Regina Pacis FMM. Ulang tahun Yayasan Regina Pacis FMM diperingati pada tanggal 22 Agustus. Tanggal tersebut bertepatan dengan Perayaan Bunda Maria Ratu pada kalender liturgi gereja. Maka dari itu, logo sekolah kita digambarkan dengan Bunda Maria, burung merpati serta daun zaitun yang melambangkan Ratu Damai.
Sekolah Regina Pacis Bogor membawa semangat Ad Veritatem, Per Caritatem yang artinya menuju kebenaran melalui kasih.
Sekolah ini juga memiliki 5 nilai dasar yaitu Compassion, Humility, Integrity, Peace dan Servant Leadership atau bisa disebut dengan CHIPS.
Pada dua belas Juli tahun 2021, ditengah pandemi covid yang melanda, Yayasan Regina Pacis FMM meluncurkan visi misinya yang terbaru. Disertai juga dengan peluncuran Visi misi dan juga tujuan dari masing-masing unit.
Walaupun terhalang oleh pandemi, Sekolah Regina Pacis Bogor selalu berusaha untuk memenuhi panggilannya, untuk menghadirkan pengajar yang berkualitas dan mampu beradaptasi dengan keadaan. Kegiatan belajar mengajar, seminar hingga rekoleksi diadakan secara jarak jauh. Dengan semua berkat Tuhan yang berkelimpahan, Sekolah Regina Pacis Bogor dapat melewati semuanya.
Seiring berjalannya waktu, Sekolah Regina Pacis Bogor terus bertumbuh dan diperkuat oleh sinergi yang luar biasa dengan ikatan alumninya. Para lulusan yang kini berkiprah di berbagai bidang tetap berkontribusi secara aktif dan menjadi teladan bagi generasi penerus di sekolah. Dukungan berkelanjutan dari alumni ini memastikan bahwa misi pendidikan dan karakter luhur yang dibangun tidak berhenti di ruang kelas, melainkan terus diaplikasikan di tengah masyarakat.
Salah satu implementasi nyata dari nilai kepedulian (Compassion) ini terlihat dalam aksi sosial berkelanjutan yang dikenal dengan nama “Sabtu Berbagi”. Dengan bahu-membahu bersama alumni, Sekolah Regina Pacis memfasilitasi pembagian makan siang bagi warga sekitar yang membutuhkan di lingkungan sekolah. Kegiatan mulia ini tidak hanya sekadar donasi, tetapi merupakan pembelajaran hidup yang nyata tentang kerendahan hati dan kepedulian sosial bagi seluruh keluarga besar sekolah.
Lebih dari sekadar mengejar prestasi akademis, Sekolah Regina Pacis Bogor bertekad untuk terus melahirkan calon-calon pemimpin masa depan yang berkarakter luhur. Dengan memegang teguh semboyan Ad Veritatem Per Caritatem, proses pendidikan di sekolah ini dirancang agar setiap peserta didik mampu mencapai kebijaksanaan yang dilandasi oleh cinta kasih. Kami percaya bahwa perpaduan antara kecerdasan intelektual dan budi pekerti yang baik akan memampukan setiap lulusan untuk memberikan dampak positif di manapun mereka berkarya.
Sekolah Regina Pacis didirikan oleh para Suster Fransiskan Misionaris Maria (FMM). Kisah perjalanan sekolah Regina [...]
Cerita tentang misi pertama di Rangkas Betoeng terjadi pada tanggal 18 Maret 1933. Kapal yang [...]
M. Hildebrand mengirimkan radiogram kepada M. Margurite di Roma pada tanggal 10 Mei 1933. Ia [...]
FMM di Buitenzorg berdiri secara resmi pada tanggal 25 Juni 1933. Selanjutnya, anggaran dasar yayasan [...]
Selanjutnya setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada tahun 1947, kongregasi suster Ursulin secara resmi memutuskan bahwa [...]