Langkah Maju Sebuah Komunitas

Sejak akhir abad ke 19, penggunaan arti komunitas  meninggalkan beberapa tambahan dengan pengharapan yang segar akan kedekatan, kehangatan dan harmoni yang baik antara orang-orang yang mempermasalahkan atau orang-orang yang dulu tidak jelas akan arti komunitas (Elias 1974, dikutip oleh Hogget 1997: 5).

Di dalam komunitas, individu-individu mempunyai kepercayaan, kebutuhan resiko, sumber daya, maksud, preferensi dan berbagai hal yang serupa atau sama. Kertajaya Hermawan (2008), mengungkapkan bahwa komunitas adalah sekelompok manusia yang memiliki rasa peduli satu sama lain lebih dari yang seharusnya. Dapat diartikan, komunitas adalah sekelompok orang yang saling mendukung dan saling membantu antara satu sama lain.

Hal ini selaras dengan langkah untuk menghadapi pandemi covid 19 yang menguji ketahanan semua level (mulai dari bentuk komunitas yang paling kecil, yaitu keluarga hingga komunitas besar seperti sebuah negara). Di dalam berkomunitas, untuk menghadapi masa pandemi seperti ini, diperlukan nurani dan kejujuran dalam bertindak.

Menyeberang Jalan
Ketika komunitas memutuskan untuk menyeberang jalan, tidak ada kata lain, selain jalan maju. Namun, tetap diperlukan sikap waspada. Maju harus berarti semakin baik (baca:sampai tujuan) dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang telah dipilih untuk seluruh anggota komunitas.

Di samping rasa antusias untuk maju, turut diperlukan sikap untuk menguatkan situasi. Situasi, apabila tidak dikuatkan, resiko terburuknya ialah mandek dan tercecernya anggota dalam komunitas. Mandek dan tercecer karena kejadian dan keadaan.

Anggap saja kejadian dan keadaan ini karena perasaan cepat puas. Cepat puas, disadari atau tidak memposisikan diri layaknya orang yang membawa tubuhnya saja, tidak lebih. Sehingga saat berdesak-desak sebentar saja, terus memiliki rasa tidak betah, mengeluh, mengumpat, dan bahkan memilih untuk mundur.

Semua rasa tersebut ditampilkan karena manusia memiliki jiwa dan hati, berbeda dengan mesin/robot.

Di sinilah ketangguhan khususnya sebagai manusia dan umumnya sebagai komunitas diuji. Pertanyaanya, bagaimana caranya agar komunitas tidak mandek atau tercecer?

Ketangguhan dan Melayani
Menilik sejarah umat manusia, juga jenis hewan, mereka yang belajar untuk berkolaborasi dan berimprovisasi adalah kawanan yang paling efektif untuk menang. Hal ini dipertegas dari kutipan Charles Darwin, penemu teori evolusi yang mengungkapkan bahwa spesies yang bisa bertahan bukan yang terkuat, juga bukan yang cerdas, melainkan yang paling mudah beradaptasi dengan perubahan.

Dalam beradaptasi diperlukan ketangguhan, khususnya untuk mencari celah dalam menahan atau menghadapi berbagai situasi. Covid 19 yang melanda negara-negara di dunia menawarkan tantangan besar untuk tangguh, baik saat menampilkan physical distancing sampai pembatasan sosial yang menuntut ketahanan komunitas. Sikap berani, optimis, dan tekad yang bulat diharapkan dapat diterapkan dalam menghadapi pandemik covid 19. Sayangnya, tidak semua manusia membawa ketangguhan dari lahir, tangguh bukan naluri manusia, daya tersebut tergantung dari pengalaman dan keunikan masing-masing individu (Kompas, Hal.7, 12 September 2020). Maka itu, ketangguhan manusia bisa berbeda satu sama lain.

Salah satu naluri manusia yang terbentuk dalam jiwanya secara individual adalah kemampuan dasar yang biasa disebut melayani. Melayani sangat berkaitan dengan hati manusia. Hal ini diperkuat dalam injil Lukas 22:26-27: “Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.” “Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani?” “Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.” Dalam kesempatan lain, Tuhan Yesus berkata: “Barangsiapa yang meninggikan diri ia akan direndahkan, tetapi barangsiapa yang merendahkan diri akan ditinggikan.”

Dalam buku Teacher As a Coach: Parents As a Coach karya Pramudianto diceritakan sebuah maskapai penerbangan swasta yang terkenal dengan layanan penuh senyum tulus di sepanjang penerbangan bahkan terjadi di luar pesawat. Apa yang menjadi rahasianya? Ternyata mereka melakukan rekrutmen pemuda-pemudi dari daerah (desa), kemudian dididik, diberikan hard competency dan jadilah mereka. Sikap melayani, ramah, sapa adalah bagian yang hidup dalam keluarga dan masyarakatnya.

Selanjutnya, pengalaman yang tidak terduga hadir dari tulisan Robert K. Greenleaf. Pada tahun 1970, ia menulis sebuah buku dengan judul The Servant as Leader. Ide buku ini hadir setelah Greenleaf membaca novel berjudul Journey to the East karangan Hermann Hesse. Dalam novel, cerita digambarkan sekelompok orang melakukan suatu perjalanan spiritual.

Tokoh sentral dalam cerita ini bernama Leo yang ikut rombongan perjalanan. Leo diceritakan memiliki pribadi luar biasa. Leo bertugas sebagai seorang pelayan (abdi). Ia melakukan hal-hal kecil, meski dinilai tak berarti, Leo sering memberikan semangat dengan nyanyian-nyanyian dan seruan lantangnya.

Lebih dari itu, Leo selalu diminta menjadi berani untuk melakukan lebih dulu sebelum anggota lain melakukan. Apa yang dilakukan Leo tidak sepenuhnya membuat anggota lain puas atau terhibur, tidak jarang Leo dianggap mengganggu karena merusak konsentrasi.

Meski demikian, kehadiran Leo terasa luar biasa. Semuanya berjalan baik, sampai suatu ketika Leo menghilang. Sejak saat itu kelompok menjadi berantakan dan perjalanan spiritual berakhir gagal. Ternyata mereka tidak dapat melaksanakan perjalanan spiritual tanpa si pelayan yang bernama Leo.

Kemudian sejak saat itu, anggota lain menyadari bahwa Leo yang dikenalnya sebagai seorang pelayan, dalam kenyataannya ia adalah pemimpin sesungguhnya. Leo ialah roh pembimbing, seorang pemimpin besar dan terhormat.  Cerita dalam novel tersebut bagi Greenleaf menegaskan bahwa yang pertama dilihat dari seorang pemimpin adalah pribadinya sebagai pelayan, dan kenyataan ini adalah kunci kebesarannya.

Terakhir, sebagai penutup, penulis terkenal dan Kepala Instruktur Kelangsungan Hidup Militer Inggris, John Hudson dalam bukunya, How to survive a pandemic: life lessons for coping with covid 19 menegaskan bahwa sangat penting meningkatkan kemampuan semua orang untuk menoleransi kesulitan dan meningkatkan ketekunan dalam melakukan adaptasi.

Ini semua merupakan keahlian terpenting untuk bertahan hidup dan mengembangkan hidup dalam hal apapun, entah yang menyebabkan anggota komunitas menjadi mandek, tercecer dari dan saat diambil keputusan menyeberang jalan. Ketangguhan dan melayani dalam komunitas diputuskan melalui tanggung jawab yang kuat. Inilah yang membuat keputusan lebih bertenaga, percaya diri dan memegang kendali.

Selamat Hari Komunitas Nasional!

Penulis: Rico Aditama
Editor: Scholastica P. Putri

Leave a Reply

Your email address will not be published.